Perusahaan internet raksasa, Google tak surut dari panen gugatan. Setelah beberapa waktu lalu digugat para ibu terkait aplikasi berbayar, kini siswa sekolah gantian menggugat Google.
di beritakan Mashable, Rabu 19 Maret 2014, perusahaan yang bermarkas di Menlo Park, California, AS itu digugat atas dugaan pengawasan layanan email pengguna untuk kepentingan serangan iklan.
Para siswa merasa terusik dan menganggap cara pengumpulan data Google melalui email itu bertentangan dengan hukum privasi negara.
Dilaporkan, Pengadilan Distrik Northern California menerima pengajuan gugatan dari 9 siswa yang menggunakan Gmail sebagai layanan Apps for Education.
Layanan tersebut memang tak berbayar alias gratis dan telah digunakan lebih dari 30 juta pengguna di seluruh dunia. Kebanyakan pengguna aplikasi itu merupakan siswa di bawah 18 tahun menggunakan layanan itu dari sekolah mereka.
Surat kabar pendidikan AS, Education Week melaporkan Google memindai dan mengideks email semua pengguna Apps for Education, dan Google kemudian menggunakan data itu untuk tujuan iklan yang potensial.
Gugatan itu, imbuh Education Week, dapat berdampak serius pada pemaknaan UU Privasi dan Hak Pendidikan Keluarga (FERPA) AS. Undang-undang yang dibuat pada 1974 itu mengatur dan memastikan rekaman privasi siswa dibawah usia 18 tahun.
Departemen Pendidikan AS sudah merespon kasus ini dan menyatakan praktek Gmail itu telah bertentangan dengan FERPA.
Bayar pengguna Gmail
jika gugatan siswa dikabulkan, maka Google diharuskan membayar kompensasi kepada jutaan pengguna Gmail. Praktik pengawasan iklan Google itu sontak saja menuai kemarahan pembela privat.
Disebutkan Electronic Privacy Information Center (EPIC), menegaskan Google tak bisa sembarangan mengambil data pengguna meskipun setiap pengguna Gmail telah menyetujui aturan dan kebijakan Gmai.
"Non pelanggan yang tak setuju dan memang tidak menyadari komunikas mereka dianalisa atau profil mereka disusun," ujar EPIC dalam pernyataannya.
EPIC juga mempermasalahkan soal kemampuan Google menyusun profil rinci pengguna Gmail, dan menghubungkan dengan data Gmail mereka.
Selain EPIC, kompetitor Google, Microsoft juga mengkritik praktik Gmail. Perusahaan peranti lunak itu mengklaim tidak menggunakan data email untuk kepentingan iklan
Perusahaan internet raksasa, Google tak surut dari panen gugatan. Setelah beberapa waktu lalu digugat para ibu terkait aplikasi berbayar, kini siswa sekolah gantian menggugat Google.
di beritakan Mashable, Rabu 19 Maret 2014, perusahaan yang bermarkas di Menlo Park, California, AS itu digugat atas dugaan pengawasan layanan email pengguna untuk kepentingan serangan iklan.
Para siswa merasa terusik dan menganggap cara pengumpulan data Google melalui email itu bertentangan dengan hukum privasi negara.
Dilaporkan, Pengadilan Distrik Northern California menerima pengajuan gugatan dari 9 siswa yang menggunakan Gmail sebagai layanan Apps for Education.
Layanan tersebut memang tak berbayar alias gratis dan telah digunakan lebih dari 30 juta pengguna di seluruh dunia. Kebanyakan pengguna aplikasi itu merupakan siswa di bawah 18 tahun menggunakan layanan itu dari sekolah mereka.
Surat kabar pendidikan AS, Education Week melaporkan Google memindai dan mengideks email semua pengguna Apps for Education, dan Google kemudian menggunakan data itu untuk tujuan iklan yang potensial.
Gugatan itu, imbuh Education Week, dapat berdampak serius pada pemaknaan UU Privasi dan Hak Pendidikan Keluarga (FERPA) AS. Undang-undang yang dibuat pada 1974 itu mengatur dan memastikan rekaman privasi siswa dibawah usia 18 tahun.
Departemen Pendidikan AS sudah merespon kasus ini dan menyatakan praktek Gmail itu telah bertentangan dengan FERPA.
Bayar pengguna Gmail
Jika gugatan siswa dikabulkan, maka Google diharuskan membayar kompensasi kepada jutaan pengguna Gmail. Praktik pengawasan iklan Google itu sontak saja menuai kemarahan pembela privat.
Disebutkan Electronic Privacy Information Center (EPIC), menegaskan Google tak bisa sembarangan mengambil data pengguna meskipun setiap pengguna Gmail telah menyetujui aturan dan kebijakan Gmai.
"Non pelanggan yang tak setuju dan memang tidak menyadari komunikas mereka dianalisa atau profil mereka disusun," ujar EPIC dalam pernyataannya.
EPIC juga mempermasalahkan soal kemampuan Google menyusun profil rinci pengguna Gmail, dan menghubungkan dengan data Gmail mereka.
Selain EPIC, kompetitor Google, Microsoft juga mengkritik praktik Gmail. Perusahaan peranti lunak itu mengklaim tidak menggunakan data email untuk kepentingan iklan